mengubah cara pandang masyarakat adalah bagian penting dari upaya ini. Mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan tindakan berani yang melindungi diri sendiri dan orang-orang di sekitar.
Jakarta (KABARIN) - Kementerian Kesehatan mengatakan, perlu perubahan cara pandang masyarakat serta pengurangan stigma tentang pria sebagai upaya memastikan kesehatan mental pria melalui perluasan akses kesehatan, di bulan Juni sebagai Bulan Kesadaran Kesehatan Mental Pria.
"Perhatian khusus pada pria bukan tanpa alasan. Di banyak tempat, termasuk Indonesia, angka kematian akibat bunuh diri lebih tinggi pada laki-laki, dan data menunjukkan sebagian besar kasus melibatkan pria di rentang usia tertentu. Data dari Kepolisian RI tahun 2023 dan 2024, 77 persen kasus bunuh diri dilakukan oleh laki-laki dan paling banyak di usia lebih dari 40 tahun," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes dr. Imran Pambudi.
Imran mengatakan di Jakarta, Senin, di tengah tuntutan peran, tanggung jawab keluarga, dan tekanan sosial, banyak pria menanggung kecemasan, depresi, atau stres tanpa berbagi, sehingga masalah kecil bisa berkembang menjadi krisis yang mengancam nyawa. Menurutnya, momentum ini memberi kesempatan bagi komunitas, tempat kerja, dan layanan kesehatan untuk menempatkan perhatian pada kebutuhan yang selama ini kurang mendapat sorotan.
Peringatan pada bulan Juni dipilih karena bertepatan dengan berbagai inisiatif internasional yang menyorot kesehatan pria, termasuk momen-momen yang meningkatkan kesadaran publik seperti Hari Ayah dan International Men’s Health Week. Menempatkan kampanye pada waktu yang sudah mendapat perhatian publik membuat pesan tentang kesehatan mental lebih mudah menjangkau pria dan jaringan sosial mereka.
"Tujuan utamanya sederhana namun krusial: mengurangi stigma yang membuat orang enggan mencari bantuan, mendorong deteksi dini melalui skrining di layanan primer dan tempat kerja, memperluas akses layanan seperti telekonsultasi dan hotline, serta menyebarkan pesan pencegahan bunuh diri yang sensitif terhadap perbedaan gender," kata Imran.
Norma maskulinitas yang menekankan ketahanan dan kemandirian sering kali membuat pria menunda atau menghindari layanan kesehatan mental, sehingga kondisi baru terungkap ketika sudah parah.
Selain itu, katanya, gejala pada pria kerap muncul dalam bentuk yang kurang khas—iritabilitas, kemarahan, penarikan diri, atau peningkatan konsumsi alkohol—yang mudah terlewatkan oleh keluarga maupun tenaga kesehatan.
"Keterkaitan antara masalah mental dan penyalahgunaan zat juga menambah kompleksitas dan risiko sosial ekonomi yang harus ditangani," kata Imran menambahkan.
Ia mengatakan mengubah cara pandang masyarakat adalah bagian penting dari upaya ini. Mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan tindakan berani yang melindungi diri sendiri dan orang-orang di sekitar.
Kampanye yang efektif, katanya, meredefinisi keberanian dengan menonjolkan cerita-cerita nyata, menghadirkan figur publik atau tokoh komunitas yang berbicara terbuka, serta menyediakan jalur rujukan yang mudah diakses.
Di tingkat layanan kesehatan, pelatihan bagi tenaga kesehatan primer untuk mengenali tanda-tanda tidak khas pada pria dan rujukan cepat ke layanan psikososial atau psikiatri dapat menyelamatkan nyawa. Di tempat kerja, program skrining dan dukungan rekan sejawat dapat menurunkan hambatan dalam mencari bantuan dan menciptakan lingkungan yang lebih aman untuk berbagi.
Langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan siapa pun cukup sederhana namun berdampak. Untuk pria, memulai percakapan kecil dengan teman atau keluarga dan menjadwalkan pemeriksaan kesehatan mental di fasilitas terdekat adalah langkah awal yang penting.
"Bagi keluarga dan sahabat, pendekatan yang hangat dan non-menghakimi—mendengarkan tanpa memberi solusi instan—sering kali membuka ruang bagi orang yang sedang berjuang untuk bercerita," katanya.
Selain itu, komunitas dan organisasi di Jakarta dapat memanfaatkan bulan Juni untuk mengadakan sesi edukasi singkat, screening, atau menyediakan informasi rujukan lokal; penggunaan simbol warna hijau atau kampanye visual yang konsisten membantu memperkuat pesan.
Namun demikian, katanya, stigma sosial yang kuat dan keterbatasan akses layanan di beberapa wilayah memerlukan strategi yang berkelanjutan. Mitigasinya meliputi perluasan layanan telekonsultasi untuk mengatasi hambatan geografis dan waktu, penyediaan layanan yang terjangkau, serta program pencegahan bunuh diri berbasis bukti yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Upaya ini harus bersifat lintas sektor—menggabungkan kesehatan, pendidikan, tempat kerja, dan komunitas—agar dampaknya menyeluruh dan tahan lama.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026